Tampilkan postingan dengan label Finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finansial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Konferensi dan Jalan-Jalan Gratis ke Hong Kong

Ditulis oleh M. Fahmi Priyatna

 
“It Always Seems Impossible Until It’s Done”...............(Nelson Mandela)

Ini bukan cerita yang luar biasa tapi cukup membuat khasanah. Bermula dari orang-orang yang menginspirasi. Kakak angkatan “Sandy (IESP Undip 2010)” yang konferensi karya ilmiah di Jepang, begitu juga teman lintas universitas “Yessy (Unair), Ardy (Unair), Nugraha (Unej)” yang masing-masing berangkat ke “Malaysia, Taiwan dan Jepang”. Apalagi sahabat sendiri “Ratna (IESP Undip 2011)” yang studi ke Korea Selatan selama satu semester dan banyak lagi cerita2 seperti mereka. Mereka semua sangat menginspirasi sekaligus buat ngiri sebenarnya hehe. Mereka semua adalah orang yang memiliki tujuan yang kuat serta dengan gigih memperjuangkannya hingga “Mestakung” “Semesta Mendukung”. Saya juga pengen seperti mereka yang berprestasi dan berhasil ke luar negeri dengan usahanya, tapi “gimana caranya?” hmmm.

Pertanyaan “gimana caranya?” tentu sangat beralasan bagi saya. Pertama, saya tidak punya banyak uang dan kedua bahasa inggris saya ancuur pakai banget. Bagaimana seorang mahasiswa yang cupu gak punya banyak uang, sekaligus berkemampuan bahasa inggris yang payah bisa ke luar negeri? “gimana caranya?” aaaarrgh. Tapi saya gak mau menyerah, saya ingat kalau ada pepatah populer bilang “Banyak Jalan Menuju Roma”, saya hanya perlu menemukan jalan itu, kalau gak bisa jalan A yaa pindah aja ke jalan B dan seterusnya, sampe nyasar gak nemu2 jalannya haha.

Berkali-kali nyasar nyari jalan, akhirnya otak cerdas saya menemukan jalan kecil, berliku dan fantastis bernama “jalan tikus” hehe. Agar “jalan tikus” ini benar2 membawa saya nyampe ke luar negeri, saya harus membuat peta saya sendiri dari start hingga finish. Yupz, saya harus buat “strategic planning” kecil-kecilan, cieee pake bahasa inggris. Haha.

Pada titik start, saya harus menentukan mau ambil jalur yang mana agar nyampe ke luar negeri, apakah jalur “pantura” atau “selatan” wkwk bukan yang itu. Jalur ke luar negeri ada banyak, ada jalur pertukaran mahasiswa, program MUN, lomba2an, hingga konferensi karya ilmiah. Nah, gak terlalu banyak mikir saya langsung memilih jalur konferensi karya ilmiah. Saya memilih start di jalur ini karena saya pernah beberapa kali ikut lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan saya cukup PD di bidang itu.

Tapi kan saya belum pernah membuat karya ilmiah berbahasa inggris dan nanti kalau benar-benar berangkat harus presentasi dengan menggunakan bahasa inggris pula, aaarrgh. Baiklah, bahasa inggris itu memang menjadi momok bagi saya tapi saya gak harus pinter berbahasa inggris terlebih dahulu baru akan berangkat ke luar negeri, kelamaan ntar. Poko’e saya harus berangkat ke luar negeri dengan sesegera mungkin, saya harus temukan jalan keluarnya. 

Hmm, makanya mikir! “kata cak lontong”. Baiklah cak! Hahaha.

Makasi cak lontong atas nasihatmu, akhirnya otak saya yang briliant ini kembali menemukan jalan keluar. Saya kan gak harus sendirian berangkat ke luar negeri, saya bisa minta tolong dan ajak sahabat saya “Ratna Hartiningtyas” untuk berangkat bareng. Selain bisa banyak berdiskusi tentang karya ilmiah yang akan dibuat, yang paling penting kemampuan berbahasa inggris Ratna sangat mumpuni dan cantik pula, hihi. Makasi ya Ratna udah mau jadi partner karya ilmiah saya, kalau gak ada Ratna mungkin saya gak bisa berangkat ke luar negeri. Eh atau mungkin cari partner yang lain, hahaha piiss “na”.

Singkat cerita, abstraksi karya ilmiah berbahasa inggris itu akhirnya selesai. Nah ini yang menarik, kita hanya perlu mengirimkan abstraksi karya ilmiah bukan “full paper”, ahihi. Beberapa waktu kemudian, jeng jeeng alhamdulillah banget dapet LoA dari panitia. Karya ilmiah kami dinyatakan diterima oleh dua konferensi yang berbeda, ICEHM Thailand dan SIBR Hong Kong. Kami akhirnya memilih SIBR Hong Kong karena di Thailand pada saat itu sedang terjadi kerusuhan. Konferensi akan dihelat tanggal 27-28 September 2014 di Hotel Kimberley, Hong Kong. Yeeeee, udah 1/3 perjalanan. Mantab!

Masih ada 2/3 “jalan tikus” yang harus ditempuh haha. Kami harus cari pendanaan untuk keberangkatan kami ke Hong Kong. Di fase inilah yang paling menentukan, karena banyak temen2 mahasiswa yang udah lolos dan menerima LoA konferensi namun gak jadi berangkat karena gak ada yang mendanai. 

Saya beda dari yang lain karena niat saya udah bulat, poko’e saya tetap harus berangkat bagaimanapun keadaannya. Sedangkan Ratna sebelumnya udah pernah ke Hong Kong, jadi gak terlalu jadi masalah bagi dia untuk tidak jadi berangkat kalau keadaan tidak memungkinkan. Sampai hingga nanti dicerita ini akan memperlihatkan “keajaiban” yang menghampiri kami, widiiii! ^o^

Agar bisa dapat dana, ada jurus ampuh yang paling sering dilakukan mahasiswa yaitu dengan nyebar proposal permohonan dana. Begitupun dengan kami, kami ikuti jurus ampuh itu. Kyiaat zet zet, proposal jadi deeeh. Jumlah proposal yang tercetak waktu itu kalau tidak salah sebanyak 50 proposal dan menghabiskan uang berkisar 500rb. Syukurnya, waktu itu saya punya uang lebih dari hasil juara LKTI jadi gak perlu minta uang tambahan dari ortu. Sekarang tinggal bagaimana proposal yang udah tercetak nyampe ke instansi/ perusahaan calon pendonor. 

Nah pada waktu penyebaran proposal, Ratna gak bisa terlalu diganggu karena sedang magang di Bank Indonesia, Jakarta. Saya tau kalau Ratna pasti sibuk, sebelumnya saya juga pernah magang di BI dan saya sangat merasakan bahwa BI memposisikan mahasiswa bener2 seperti “pegawai” yang paham ini dan itu, masuk pukul 07.15 pulang pukul 16.00. Asik deh magang di BI, mungkin bagi temen2 mahasiwa yang belum magang, BI bisa menjadi list teratas tujuan tempat magang.

Kembali ke “laptop”. Yak jadi saya yang harus bener2 meluangkan waktu untuk menyebarkan proposal. Sebelumnya kami udah kasih sebagian proposal ini kepada agen yang Ratna kenal, jadi saya hanya harus menyebarkan sebagiannya lagi. Gak banyaklah 25 proposal, ada yang saya kirim via pos dan ada juga yang saya datangi langsung ke instansi yang bersangkutan.

Ada “moments of the day” saat saya menyebarkan proposal, saya rasa momen2 ini sangat ngena dan saya sangat bersyukur mengalami hal-hal menarik di hari itu. Hari itu saya tiba di Jakarta untuk 2 tujuan utama: (i) menyebarkan beberapa proposal dan (ii) keesokan harinya akan pulang kampung karena waktu itu sedang liburan panjang semester. 

Saya berangkat ke Jakarta menggunakan Kereta Ekonomi dan tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 02.30 WIB, jadinya saya mesti luntang-lantung dulu di stasiun sambil sesekali update status haha. Oia hari itu berada di Bulan Ramadhan, saya sadar harus makan sahur agar nantinya kuat menyebarkan proposal. Untungnya ada sevel di stasiun jadinya bisa membeli makanan buat sahur.

Zet zeet, karena masjid di stasiun sedang ditutup maka saya memutuskan keluar dari stasiun pukul 03.30 WIB untuk mencari masjid. Alhamdulillah, tak jauh dari stasiun ada masjid yang udah buka dan terlihat sekali masjid itu udah biasa dikunjungi “pengadu nasib” seperti saya. Diperbolehkan mandi di kamar mandinya, iyalah masa di tempat shalatnya haha. Setelah saya mandi dan selesai menjalankan shalat subuh, saya berdoa dan siap melangkahkan kaki buat nyebar proposal. Saya ingat sedikit mantra di Novel Negeri Lima Menara, saya ucapkan “Man Jadda Wa Jada” “Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat”, udah kayak pejuang 45 sambil ngepal tangan dan melangkahkan kaki dengan pasti ke luar masjid, berangkaaaaaaat! Wkwkwkwk.

Beberapa instansi yang saya tuju adalah: (i) DIKTI, (ii) Kemenpora serta (iii) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mungkin pada bertanya2, kog KKP? Iya karya ilmiah kami berhubungan dengan ekonomi kelautan. Nah lanjut yaa, pada waktu menyebarkan proposal inilah saya sadar bahwa bekal uang yang saya bawa sangat terbatas. Dengan menggunakan transportasi umum, saya turun di lokasi yang letaknya tidak berdekatan dengan instansi tersebut. Sehingga saya harus berjalan beberapa ratus meter, ketika itu masih pagi dan puasa saya masih kuat banget hehe, jalannya aja masih kenceng. Setelah sampai di instansi ada beberapa format surat pengantar proposal yang salah dan harus saya benahi. Saya harus berjalan lagi menuju tempat rental komputer dan sejenisnya untuk memperbaiki itu. 

Muter2 kesana kemari gak nemu juga rental komputernya. Matahari sudah cukup terik, saya lihat ke jam tangan sudah pukul 11.15 WIB. Saya sudah mulai kesal, capek dan hauus banget. Mulanya jalan dengan gagah dan kenceng, sekarang kepala tertunduk lemes. Pengen naik ojek tapi uang gak cukup. Saya itung-itung uang persediaan saya hanya cukup buat naik transportasi umum ke KKP dan buka puasa serta sahur besok. Memang ada uang lebih sekitar 150rb, tapi hanya cukup buat naik Damri di sore hari ke Bandara Soeta dan bayar pajak bandara karena keesokan harinya saya sudah ada jadwal flight ke Pekanbaru (Kampung Halaman).

Balik lagi ke rasa yang udah mulai kesal dan badan yang udah sangat lemes. Lagi-lagi saya membesarkan semangat dan sabar dengan mengingat kutipan mantra dari Novel Negeri Lima Menara “Man Shabara Zhafira” “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Iya secara gak sadar pengalaman baca novel dengan kisah luar biasa itu bisa menguatkan saya. Saya bisa aja kog minta uang tambahan dari ayah saya, ayah saya pasti kasih. Tapi kondisi ini beda, ini udah menyangkut komitmen dan prinsip. Saya bukan tipe yang dikit-dikit minta bantuan, minta bantuan kog dikit-dikit, haha.

Yes, hari itu berhasil saya lewati. Saya masih utuh lahir dan batin, wkwkwk. Uang saya pun ngepas bisa mengantarkan saya sampai kampung halaman. Tinggallah hari-hari mengonfirmasi dan menunggu kabar baik dari hasil penyebaran proposal.

Dua minggu berlalu saatnya untuk mengonfirmasi. Beberapa kali mengonfirmasi proposal dari instansi-instansi yang telah saya kirim, ternyata hasilnya masih nihil. “Maaf mas perusahaan kami belum bisa berkontribusi, mungkin di lain waktu, tuut tuut” kata admin intansi. Tinggal satu instansi lagi yang belum bisa dihubungi, dari KKP. Udah ngga yakin juga bisa dapat bantuan dari KKP, yaudahlah. 

Waktu itu saya hanya berharap dengan pihak kampus FEB Undip, Alhamdulillah ternyata kampus mau ngasih 3,5jt untuk bantuan dana. Tentunya uang ini masih sangat kurang untuk ikut konferensi di Hong Kong. Untuk registrasinya aja sekitar 5jt, belum penginapan dan makan disana, beeeh. Tapi karena keyakinan saya waktu itu, tanpa ragu saya buka salah satu website penjualan tiket pesawat dan gak pikir panjang langsung saya beli tiket PP Jakarta-Hong Kong pakai uang dari kampus. Dalam hati berujar, “Sisanya biar Allah yang menutupi”.

Maka kembali terbukti ayat-ayat yang menggetarkan jiwa dan membakar semangat. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya (QS. At-Thalaq: 2-3)”. Pagi itu pukul 09.00 WIB lebih-lebih sedikit, saya yang udah gak yakin akan dapat sponsor dari manapun tapi ternyata secercah harapan itu kembali datang. Saya dihubungi langsung oleh petinggi dari KKP. Mereka (KKP) sangat terkejut ada karya ilmiah mahasiswa yang membahas tentang topik yang sangat hangat dan menjadi fokus dari KKP baru-baru ini. Bapak yang menghubungi saya sedikit interogasi saya tentang tema tersebut dan langsung saya jawab tap tip tup jebret dengan yakin. Beliau langsung mengundang kami untuk datang ke kantor pusat KKP di Jakarta mempresentasikan karya ilmiah kami.

Meeting pertama kami bersama dengan tim KKP tidak berjalan mulus. Mereka terlihat belum cukup puas dengan karya ilmiah yang kami buat. Hingga kedua belah pihak menyetujui untuk bekerjasama saling membantu perbaikan karya ilmiah kami. Padahal waktu itu saya kira diundang kesana untuk presentasi dan langsung dikasih dana, wkwkwk. Tapi syukurnya kami tidak langsung ditolak bahkan dibantu untuk membenahi karya ilmiah kami.

Sejak meeting dengan KKP, barulah kami benar-benar serius membuat karya ilmiah yang konkrit dan dapat diimplementasikan. Sebelumnya karya ilmiah kami hanya menggunakan data sekunder, tapi kami gak mau menyia-nyiakan kesempatan kedua. Karya ilmiah kami harus mantab, kami memutuskan untuk berkunjung langsung ke daerah observasi dan menggunakan data primer.

Gambar 1. Ratna lagi wawancara

Setelah pertemuan pertama ternyata KKP beberapa mengundang kami untuk melaporkan perkembangan karya ilmiah kami. Hingga tiba di h-7 sebelum keberangkatan pihak KKP benar2 membuat kami kegirangan, mereka bersedia membayar registrasi konferensi kami berdua dan membelikan tiket pp Ratna CGK-HKG, uwaaaa! Bukan hanya itu, h-1 sebelum keberangkatan kami melakukan gladi bersih dengan simulasi presentasi dan tanya jawab. Yessss, setelah gladi bersih KKP benar2 membuat kami terharu. Kami diberikan uang saku yang sangat cukup untuk berada di Hong Kong selama 9 hari bahkan bisa berlebih untuk membeli oleh2 :’)


Sky Terrace, The Peak!


Begitulah kawan, teringat kata Yusuf Mansur “Semua yang awalnya terlihat bagaikan ombak yang menggulung-gulung besar, tapi ketika dicoba dan dijalani hanya bagaikan air riak sungai yang kecil”. Bahkan saya dapat membuktikan kepada teman2 yang dulu sering nyindir kalau saya gak bakal bisa ke luar negeri karena gak bisa bahasa inggris, saya bisa kawan! “It Always Seems Impossible Until It’s Done”. Bahkan setelah ini, mahasiswa yang berkemampuan bahasa inggris pas-pasan bahkan ancur ini berniat melanjutkan S2 (master) ke Eropa bersama sahabat-sahabat pejuang mimpi. Kira2 bisa ngga nih kawan? Kita liat aja yaa. Allah selalu menyaksikan hambanya yang bertekad dan mengabulkan semudah Kun Fa Yakun! Amiin.

Selepas presentasi


Minggu, 23 November 2014

Butuh Bantuan Dana? Bikin Proposal Aja! Gini Caranya!

Saya mengerti mengapa Sobat masih mau membaca paragraf ini setelah membaca judulnya. Saya mengalaminya bertahun-tahun saat menjadi mahasiswa. Hahaha. Dunia ini memang tidak adil, Sob.

Masalah ini semakin krusial di kalangan mahasiswa kampus negeri. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan pembantu rektor II yaitu Pak Chabahib untuk sekadar silaturrahmi. Beliau bercerita (sebagian dari curcol) bahwa beliau terpaksa menghapus beberapa pos anggaran dalam dana hibah. Katanya, pemerintah tidak lagi mengatur perihal pos hibah, sehingga pencairan dana untuk kegiatan prestasi mahasiswa menjadi bias dengan tuduhan korupsi (karena tidak ada posnya itu tadi). Implikasinya, selama beberapa lama ke depan kita harus menelan ludah kalau proposal dana ke kampus ditolak. Hal kedua yang perlu kita pahami adalah bahwa karena kampus kita sudah menggunakan uang kuliah tunggal, aliran kas ke kampus di tahun awal-awal ini (2014) tak seperti tahun sebelumnya.

Saya sendiri sempat dongkol dalam hati waktu membandingkan sulitnya saya mendapatkan dukungan dari kampus Undip dibanding dengan seorang teman lainnya di salah satu universitas swasta di Semarang. Mereka mendapatkan amat banyak kemudahan (termasuk diuruskan visa dan paspornya. [ih...])--selalu dianakemaskan oleh kampus mereka. Teman saya di kampus tersebut yang mendapat satu prestasi internasional (yang menurut penilaian saya nggak heboh-heboh amat gengsi acaranya), misalnya, bisa dijadikan model iklan dan mejeng di billboard di pusat kota. Segitunya yaaa ... Tapi, saya juga berprasangka baik: oh, saya beruntung ada di kampus yang banyak mahasiswa berprestasinya, karena itulah saya bisa berprestasi; oh, mungkin Undip tidak lagi harus mengurus saya dengan sedetail itu karena saya dianggap mandiri; oh, karena kuliah saya disubsidi dari uang rakyat, makanya saya harus tau diri.

Lalu, apa jalan keluarnya? Jalan keluarnya adalah dengan mencari dana ke luar kampus. Berprestasi di kancah internasional tidaklah harus di luar negeri. Internasional itu tingkatnya, bukan tempatnya. Nah, di sini, saya akan sedikit bercerita tentang membuat proposal sponsorship untuk program yang ke luar negeri. Ini adalah pilihan terakhir kalau kita mau berprestasi internasional (dan harus ke luar negeri) tapi belum ada dukungan finansial.


Jenis Proposal
Perbedaan umum antara membuat proposal sponsorship ke kampus (universitas/fakultas) dan perusahaan:
  1. Kalau mengirim proposal ke kampus, biasanya tidak menggunakan kata "sponsorship" dalam proposal
  2. Kalau mengirim proposal ke kampus, tidak perlu formulir pendanaan
  3. Kalau mengirim proposal ke kampus, kontraprestasi tidak rumit
  4. Kesulitan birokrasi segambreng tergantung fakultas, yaaa... Hehehe...
Menyusun proposal pendanaan
Berikut ini adalah template proposal pendanaan yang bisa kamu contoh. Tips lainnya: buat yang menarik, ukuran kertas tidak harus A4 atau F4 yang penting mudah digenggam, tidak lebih dari 8 halaman, berwarna, dijilid dengan menggunakan jilid ring besi, membuat CD interaktif.


Menyiapkan kelengkapan dokumen
Tentu saja sebenarnya proposal dan kelengkapan dokumennya bergantung dari kebutuhannya kegiatan kita. Namun secara umum, 8 berkas ini akan ada untuk satu kegiatan.
  1. Satu bendel proposal (klik di sini untuk unduk contoh proposal)
  2. Letter of Acceptance atau Invitation Letter (lampiran proposal)
  3. Abstract of Paper atau project Description (lampiran proposal, jika perlu)
  4. Curriculum Vitae  (lampiran proposal)
  5. Formulir partisipasi (lampiran proposal; klik di sini untuk contoh)
  6. Surat permohonan bantuan dana (lampiran proposal; di sini untuk contoh)
  7. Formulir tanda terima (di dalam proposal; klik di sini untuk contoh)
  8. Surat rekomendasi (jika perlu)
Oke, semua kelengkapan dokumen itu bisa dilihat di sini.

Alamat dan kotak institusi
Ada banyak sekali institusi yang mau memberipakn kucuran dana asalkan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan apa yang kita tawarkan. Yah, macam ekonomi saja: demand bertemu supply. Daftar semua alamat dan kontak perusahaan bisa dilihat di sini. Nah, untuk mahasiswa Undip, coba usahakan menargetkan perusahaan-perusahaan yang sudah 'kenal' dengan Undip. Cari perusahaannya bisa di BAK Undip. Selain itu, bisa juga dengan kirim ke International Office yang ada di Undip (bisa IO Undip, IO fakultas masing-masing).

Jika perlu, gunakan terjemahkan semua dokumen dalam bahasa Inggris
Sebagai cadangan, ada baiknya bila kita punya satu jenis proposal lain yang ditulis dalam bahasa Inggris. Hanya gunakan bahasa Inggris akademik/formal/written dalam membuat proposal! Proposal bisa diajukan kepada perusahaan-perusahaan besar seperti MNC yang masih berhubungan dengan program kita. Tapi ingat jangan asal juga saat melakukan translasi. Lebih baik gunakan jasa translasi yang sudah diyakini mengerti bahasa Inggris formal. Di Undip yang sudah lama terkenal adalah Backspace Translation. Jasa penerjemah, penyunting, dan pemeriksa ini didirikan oleh lulusan-lulusan terbaik dan x-mahasiswa program Student Exchange. Cek websitenya Backspace Translation di sini.

Bertandang dan follow up 
Ingat, pada dasarnya mencari sponsorship adalah sebuah kegiatan selling. Selling adalah tombak utama dari marketing. Jadi, belajarlah cara "menjual diri" pada kampus atau perusahaan. Apa saja yang bisa dijual?
  1. Prestasi.
  2. Diri yang ditunjukkan oleh sikap tubuh, sikap bicara, sikap profesional dan mawas diri yang ditunjukkan saat bertemu dengan perusahaan. Jangan kaku, hormati yang lebih tua (kalau perlu cium tangan saat bertemu)
  3. Kontraprestasi yang ditawarkan dalam proposal. Bisa berupa penyebutan di media, logo dalam spanduk yang dibawa saat kegiatan, logo dalam pakaian, logo di tas, pin, menjual produk di LN, dll.
Nah, berikut ini akan saya ceritakan langkah rincinya. Pengalaman ini berdasarkan pengalaman permohonan dana saya ke Bank Mandiri KC Pemuda Semarang.
  1. Sediakan waktu setidaknya 3 bulan untuk mempersiapkan. Kalau mendadak, jarang ada yang mau
  2. Dari kosan/rumah, siapkan sebuah map yang bagus dan bawa semua dokumen, jangan lupa dirangkap.
  3. Dandan yang rapi dan profesional. Walaupun masih mahasiswa, usahakan dandan seformal mungkin. Perhatikan rambut/kerudung yang sederhana, kemeja yang dipakai, celana/rok sampai ke sepatu. 
  4. Berdo'a supaya tenang dan terus perhatikan tata laku yang sopan, santun, bersahabat, bersemangat.
  5. Datangi institusinya dan lapor ke satpam depan dan minta informasi untuk memasukkan proposal ke loket surat 
  6. Nanti, akan diantar ke meja satpam dan di sana akan diberi surat memo masuknya proposal
  7. Adapun kita juga harus memberikan formulir tanda terima, minta diisi oleh petugas. Bagian atas untuk petugasnya dan bagian bawah untuk kita. Kalau bisa minta CP petugasnya dan tanggal untuk follow up
  8. Setelah itu, kita tinggal menunggu proposal kita masuk ke kepala bagian untuk diproses.
  9. Di hari yang telah ditentukan (saat poin 6), jangan lupa untuk menghubungi instansi terkait melalui telfon terlebih dahulu. Tapi, jangan lakukan follow up melalui telfon. Itu sangat tidak sopan, kecuali petugasnya sendiri yang menolak.
  10. Kita akan datang ke instansi terkait untuk melakukan deal sesuai dengan jadwal yang telah diatur dalam telfon
  11. Lakukan kembali poin 1, 2, 3
  12. Deal dapat dilakukan berdasarkan keputusan pribadi kita masing-masing. Apa yang kita tawarkan harus sebanding dengan harga yang berani mereka bayar
  13. Tanda tangan formulir partisipasi. Jangan lupa minta cap dari instansinya (Untuk tahap ini, dari kampus, maka akan diberi surat perjalanan dinas)
  14. Terus lakukan kontak dengan key person
  15. Berangkat dan lakukan apa yang sudah di-deal-kan
  16. Buat laporan perjalan. Contoh laporan perjalannya saya dapat dari blog kak Mutiara Fadjar.
  17. Kembali ke instansi terkait untuk memberikan laporan
  18. Selesai
Kiranya sekian dan terima kasih!https://backspacetranslation.com/

Minggu, 13 Juli 2014

Tips dan Trik membuat Proposal Kegiatan

Ditulis oleh: Khusnul Ari Mustaqim


Motivasimulyo.wordpress.com




Hai Pembaca! Gimana Kabar Hari ini??
Alhamdulillah gue bisa nulis setelah sekian lama vakum nulis hehe, di kesempatan ini gue bakal share pengalaman gue mendapatkan  dana. Di entri ini, gue akan menceritakan tahapan tips, trik, dan link penting kalau bikin temen temen open minded. Secara khusus, tulisan ini buat kawan kawan yang di Universitas Diponegoro.

Oke gue awali dulu dari Mahasiswa, Mahasiswa terkenal sebagai seorang pelajar dengan intelektual diatas lebih tinggi serta mempunyai semangat berorganisasi yang tinggi, tapi ada juga Mahasiswa yang hanya bertujuan mencari sebuah nilai IPK. Naaaah kamu tipe mahasiswa yang seperti apa kawan ? opps jangan mbahas IPK deh jadi sensi gue ,biasalah anak teknik mesin, Undip lagi hohoho. Gue mau ngebahas mahasiswa yang aktive aja deh. Baik aktive di organisasi, lomba lomba,call of paper, banyak program/project yang pasti UUD(ujung ujungnya dana ). Gue juga mahasiswa lho, jadi ngrasain klo tantangan mahasiswa itu banyak banget.  yang pertama NIAT,kedua LANGKAH MENGAWALI (banyak yang punya konsep,tujuan tak tak berani Action), nah ketiga ini DUIT, dan itu wajar karena kita harus membagi buat makan, bayar tunggakan Kost-an, buat jalan sama pacarnya,dan kongko kongko sama teman. Nah, pertanyaannya gimana sih kita mensukseskan event tanpa harus mengeluarkan isi dompet sendiri ???


Yaps Proposal, Sebenarnya gak cuma kegiatan doang sih yang butuh proposal tapi kehidupan juga butuh proposal kehidupan lho hayoo dah bikin belom? Ok buat kesempatan ini gue mbahas proposal kegiatan aj deh. Gimana sih trik dan tipsnya agar tembus :

1.      Bikin Proposal Seefisien mungkin, bedakan mana proposal buat Universitas, buat Donatur, Buat perusahaan Sposorship.
a.       Buat univ (terutama UNDIP)
 i.      Usahakan ada TTD dari PD3 dan Kajur ya di pengesahanya
ii.      Ada surat resmi (note Perihalnya :Permohonan Dana, Bukan Sposorship) , tunggu aja ya tulisan untuk pengajuan ke UNDIPnya J
b.      Buat Donasi
 i.      Minta TTD di pengesahannya PD3 dan PR3 (masuk aja rektorat UNDIP belok kiri ketemu Sekretarisnya(namanya bu Mirna) dan tinggal aja,follow up-innya 1-2 harinya)
ii.      Surat resminya dari Fakultas yang di TTD Ketua pelaksanaan dan PD3 yang mengetahui ya
c.       Buat Perusahaan calon Sponsor
 i.      Buat proposal Semenarik mungkin dan Gak usah detail (to the Point aj Ok)
1.      Proposalnya Bermutu, Menjual, elegan dan suported
2.      Penawaran kerja samanya menarik dan Saling menguntungkan. download aja di sini :
3.      Wajib ada nomer Surat dan usahakan TTD dari Rektorat
ii.      Siapkan properties Kertas yang banyak, File,Printer dan penjilidan proposal dan yang tidak kalah pentingnya SIAPKAN MENTAL untuk mengawalinya
iii.      Bikin daftar list perusahaan Sasaran
iv.      Cari relasi orang dalamnya
Ini lumayan penting untuk mempermulus jalanya proposal kawan kawan.cari refrensi orang dalamnya itu dari Teman, Keluarga, Dosen, Relasi Univ dll
v.      Siapkan Presentasi jika sewaktu waktu di panggil di sebuah perusahaan seperti BI, Pertamina dll.

NO
NAMA LENGKAP
ALAMAT TEMPAT TINGGAL
NAMA INSTANSI
ALAMAT INSTANSI
NO. HP
PENGHUBUNG

Ok Persiapan gue kira cukup tinggal Eksekusi gmana prosedurnya :

1.      Juallah proposalmu!!
1. Menghubungi orang yang bersangkutang di persahaan yang kita tuju dengan email atau telp.
·         Menyerahkan Proposal (max H-40 harian) dan Overview isi proposal. Jangan menitipkan proposal ke orang yang salah seperti Satpam ,OB karna di pastikan tidak akan sampai,kalaupun sampai di anggap gk ada keseriusan dan di cuekin sajakarena banyak proposal juga yang antri. jika di titipkan di bagian administrasi,mintalah surat tanda terima
·         Janji ketemuan / minta jadwal presentasi detail kegiatan.
·         Bagi perusahaan yang tidak  ada Cpnya ada ,di telp receptionisnya –sambungkan ke pimpinan(karena pimpinan yang menentukan) atau kalo tidak di bagian external,kepala Humas atau Marketingnya. Jelaskan dari mana anda dan jelaskan programnya kemudian tanya pengarahan atau minta ketemuan.

2.      Tepati Janji, Komunikasi dan jaga Penampilan!!
·         Datang sesuai janji.
·         Buat suasana mencair dulu baru ke point proposal kita
·         Presentasi yang komunikatif dan elegan(posisikan diri kita sama dengan mereka)
·         Bawa Proposalnya,jika tidak bisa di tanyangkan pakai LCD proyektor
·         Jelaskan detail tawaran kerja sama yang kita tawaran
·         Mintalah tanggapan ,saran, minta waktu untuk konfirmasi dan prosedurnya.